Ribuan pulau; kekayaan suku bangsa: adat, tradisi, bahasa, kesenian; kekayaan alam: flora, fauna menjadikan Indonesia bak Taman warna-warni bunga nan indah. Si Polan yang Islam bisa bermain-main dan bersendau gurau dengan riang bersama si Parto yang Hindu. Si Wulan yang Budha bisa belajar kelompok mempersiapkan untuk ujian bersama dengan si Bunga yang Kristen, juga si Panjul yang Konghucu. Si Dadap yang Islam bisa patungan modal mendirikan warung makan bersama dengan si Waru yang Katolik. Si Akhmad yang Islam dengan senang hati meminjamkan mobilnya kepada keluarga si Jupri yang anaknya akan menerima pemberkatan perkawinan di gereja. Inilah barangkali yang terbayangkan oleh para pendiri bangsa. Ruang publik adalah ruang milik bersama yang harus bebas dari sekat-sekat sektarian/ kepentingan kelompok tertentu!
Lembaga terhormat seperti DPR adalah rumah publik, rumah bersama. Oleh karena itu semua produk yang dihasilkan dari ruang publik itu haruslah juga untuk kepentingan bersama. Sudah lebih dari 60 tahun kita merdeka, mestinya watak visioner para pendiri bangsa semakin melekat (inherent) pada setiap pemegang posisi strategis di negara ini, mulai ketua RT s/d Presiden.
Pertanyaan: Tegakah Anda menodai warisan para pendiri bangsa yang amat visioner/ pluralis itu dengan cara mengetok palu untuk UU atau produk hukum lainnya yang hanya ditujukan untuk kelompok tertentu? Akankah rumah bersama itu Anda robohkan?
1 komentar:
kemproh u dri !!
Posting Komentar